A Framework for Psychophysiological Classification
within a Cultural Heritage Context Using Interest
ALEXANDER J. KARRAN, STEPHEN H.
FAIRCLOUGH, and KIEL GILLEADE, Liverpool John Moores University
URL/DOI:
http://dx.doi.org/10.1145/2687925
Abstract
:
This
article presents a psychophysiological construct of interest as a knowledge
emotion and illustrates the importance of interest detection in a cultural
heritage context. The objective of this work is to measure and classify
psychophysiological reactivity in response to cultural heritage material
presented as visual and audio. We present a data processing and classification
framework for the classification of interest. Two studies are reported,
adopting a subject-dependent approach to classify psychophysiological signals
using mobile physiological sensors and the support vector machine learning
algorithm. The results show that it is possible to reliably infer a state of
interest from cultural heritage material using psychophysiological feature data
and a machine learning approach, informing future work for the development of a
real-time physiological computing system for use within an adaptive cultural
heritage experience designed to adapt the provision of information to sustain
the interest of the visitor.
Categories
and Subject Descriptors: H.5.2 [User
Interfaces]:
User-Centered Design, Evaluation Methodology, Prototyping
General
Terms: Theory and Methods, Human Factors
Additional
Key Words and Phrases: Interaction design process and methods, empirical studies
in HCI, interaction design theory, concepts, and paradigms
Pengkaji : Ilham Tri
Mulyawan
Kajian :
Saat ini banyak sekali
museum atau galeri seni yang mempunyai tujuan untuk memperkenalkan dan
memberikan informasi tentang warisan budaya [Ott dan Pozzi 2011]. Warisan budaya
di segala bentuknya mempunyai keunikan dan tak tergantikanserta seharusnya
generasi sekarang memegang tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya
yang sudah ada agar tetap ada. Namun disaat pengunjung melakukan kunjungan ke
museum atau galeri seni, banyak sekali pengunjung yang kurang mendapatkan
informasi dari tiap objek yang menjadi warisan budaya. Hal tersebut bukan
dikarenakan tidak ada penjelasan pada warisan budaya tersebut, melainkan
kurangnya interaktif informasi pada objek warisan budaya tersebut ke
pengunjung. Analisis tentang warisan
budaya digambarkan oleh Pine dan Gilmore [1998] tetang 4 karakteristik pemikiran
dari pengunjung yang berbeda beda :
1. Hiburan(rekreasi,narasi)
Hal
yang mengacu pada kapasitas artefak pada warisan budaya sehingga pengunjung
dapat meikmatinya dengan kognitif dan afektif.
2. Pendidikan(transfer pengetahuan)
Hal
yang menjadi proses transfer pengetahun oleh pengunjung dari objek warisan
budaya.
3. Estetika (kesenangan)
Hal
yang menekankan pada tanggapan emosional terhadap warisan budaya [Leder et
al.2004]
4. Escapist
Hal
yang mengaitkan dengan sejauh mana pengunjung tenggelam dalam realitas dari
warisan budaya.
Oleh karena itu, agar
pengetahuan pengunjung dapat lebih bertambah harus ditambahkan dengan interaksi
dengan bantuan teknologi digital. Teknologi ini diberi nama IBIS Framework.
Teknologi ini yang nantinya merupakan sistem komputasi dengan mengandalkan
fisiologi pengguna dan data yang dihasilkan sebgai input ke dalam sistem
komputasi yang dibangun dengan Loop Biocybernetic[Fairclough dan Gilleade 2012].
Framework yang dikembangkan tersebut akan menggunakan psikopisological manusia
yang artinya adalah berkaitan dengan mengenai aktivitas spontan dari organ
tubuh. Dengan framework ini terdapat tiga dimensi yang berguna untuk
operasionalisasi dalam tindakan psikopisiologikal :
1. Kognisi, yang menangkap hal-hal baru dan kompleksitas
pada rangsangan
2. Aktivasi, yang menangkap hal – hal yang merangsang
stimulus
3. Valence, yang menangkap tingkat emosional(positif-negatif)
terhadap rangsangan
Framework IBIS ini akan
diintegrasikan dengan kuantifikasi ketertarikan manusia yang menjadi real-time
sistem dan nantinya akan
diimplementasikan pada konteks warisan budaya. Model framework haruslah procedural,
dimana pengukuran psikopisiologikal diambil dan ketertarikan dari manusia
sebagai penentu biner atau skala yang menjadi output ke proses. Framework ini
kemudian menentukan tingkat otomatisasi
atau interaksi yang diperlukan berdasarkan tujuan dari objek warisan budaya
atau pengguna.
Gambar 1 Framework IBIS
Diatas
merupakan aliran procedural data dengan melalui pengukuran, proses pengolahan,
dan klasifikasi output dari keadaan binary menjadi skala (IBIS). Lalu setelah
perubahan menjadi skala, inputan dari sensor fisiologis akan diteruskan ke
komponen prosesor. Prosesor tersebut bekerja dengan fitur aktivasi, kognisi,
dan valensi dari data sensor baku. Lalu sensor tersebut akan mengubah data
menjadi data vector. Data vector tersebut akan dijjadikan penilaian subjektif
untuk masing-masing komponen objek. Framework IBIS telah diuji oleh beberapa
eksperimen yang dilakukan oleh Valencia kitchen mosaic di Madrid. Eksperimen dilakukan dengan
tujuan sebagai berikut :
- Untuk mengukur dan mengklasifikasikan reaktivitas psikopysiologikal dalam menanggapi isi warisan budaya yang disajikan sebagai rangsangan visual dan audio
- Untuk menentukan varians psikofisiologis sebagai tingkat dua kondisi ketertarikan (tinggi dan rendah) yang terdiri dari tiga dimensi: aktivasi, kognisi, dan valensi
- Untuk menentukan metode yang optimal dengan mengumpulkan data respon secara subjektif dan mengamati efeknya pada kinerja classifier
- Untuk mengevaluasi kinerja mesin dukungan vektor / the support vector machine (SVM) [Cortes dan Vapnik 1995; Burges 1998; Platt 1999] untuk aplikasi real-time dan ketepatan classifier bila dibandingkan dengan data respon subjektif
- Untuk mengevaluasi efek yang berbeda tingkat sampling fitur pada kinerja classifier.
Gambar
2 wearing sensor hardware
Gambar 2
merupakan seseorang yang sedang menggunakan sesor hardware dengan Framework
IBIS. Dalam studi ini, 10 peserta (4 pria dan 6 wanita usia 19 hingga 75 tahun)
ikut ambil bagian. Respon fisiologis dari sistem otonom diukur selama sesi
eksperimen menggunakan EKG (sampel dari batang tubuh) dan tingkat SC (kedua dan
keempat jari tangan). Empat-saluran data EEG direkam menggunakan Enobio
(StarLab) nirkabel sensor empat channel (sampel di 250Hz) dengan kontak dasar pada
cuping telinga kiri dan telinga bagian dalam. Topi EEG dipasang dan selaras
untuk memastikan penempatan sensor.
Hasil yang
didapat dari penggunaan hardware ini memberikan bukti bahwa kombinasi fitur
psikopysiologikal ditambah dengan SVM dapat meningkatkan pengetahuan dan daya
tangkap yang cepat oleh pengguna dalam menanggapi warisan budaya. Selain itu
dapat disimpulkan juga bahwa Framework IBIS yang berbasis sensor hardware ini
dapat digunakan real-time dan skala kepentingan yang transpose.


Wah baru tau nih ane ada yang beginian. Jadi lebih mudah ya. Seandainya aja di Indonesia ada nih alat
BalasHapusJadi maksudnya alat ini berfungsi sebagai alat ukur yang langsung menangkap pikiran dan pergerakan dari gambar yang diberikan untuk kita pikirkan ya ? waah seru juga.
BalasHapuswuiih keren nih alatnya canggih. Tapi bahaya juga ya kalo yang dipikirin aneh2. Nanti yang keluar gambarnya aneh-aneh juga lagi. hehehehe.
BalasHapusNice gan....
Salah satu keterbatasan dari museum yaitu daya tahan dari benda-benda yang di dalamnya. Dengan adanya temuan ini, mudah-mudahan dapat mengatasi masalah tersebut, khususnya di Indoenesia ya, yang memang minim akan respek dan kepedulian dari masyarakatnya sendiri terhadap budaya dan sejarahnya.
BalasHapusMungkin jika hal ini dijadikan alat untuk belajar mengenai kebudayaan di Indonesia lebih efisien yah dibanding harus menyediakan semua barangnya secara fisik.. kajian yang menarik :D
BalasHapusSangat bermanfaat. Sangat pas untuk Indonesia yang memiliki banyak ragam budaya.
BalasHapus"Dapat meningkatkan pengetahuan dan daya tangkap yang cepat oleh pengguna dalam menanggapi warisan budaya". Kita doakan Indonesia secepatnya mempunyai alat ini.
BalasHapusnice gan
Waah, bener juga, sering kali kita ke tempat seni dan budaya hanya sekedar tahu. Penemuan yang luar biasa ini, melihat anak sekarang kurang dalam melestarikan seni dan budaya. Nice share gan
BalasHapusMantap lah ini teknologi nya, semoga dengan teknologi ini lebih banyak lagi orang yang tertarik mempelajari budaya negeri nya masing2..
BalasHapussemoga dengan adanya teknologi seperti ini dapat membuat orang tidak lupa dengan budaya asli mereka
BalasHapusInformasi yang bagus, mungkin akan sangat berguna jika diterapkan pada dunia pendidikan di indonesia agar pembelajaran lebih menarik
BalasHapuskajian yang bagus, terstruktur dan mudah di fahami. isi kajiannya sangat menarik.
BalasHapusMemudahkan dalam memahami seni memang bagus, namun kemampuan untuk memahami sebuah karya seni adalah sebuah seni tersendiri.
BalasHapusya mungkin dengan mudahnya memahami seni kemungkinan dapat menghilangkan kemampuan seseorang dalam memahami karya seni.
Dalam sudut pandang pembuat karya seni mungkin dia ingin menantang pengunjungnya untuk dapat memahami karya seninya dengan cara pikir dia sendiri. namun bisa saja jika dengan alat ini memahaminya menjadi lebih gampang dan terkontrol. dan yang terjadi adalah arti dalam sebuah karya seni akan menghilang.