Sabtu, 20 Juni 2015

A Framework for Psychophysiological Classification within a Cultural Heritage Context Using Interest

A Framework for Psychophysiological Classification within a Cultural Heritage Context Using Interest
ALEXANDER J. KARRAN, STEPHEN H. FAIRCLOUGH, and KIEL GILLEADE, Liverpool John Moores University
URL/DOI: http://dx.doi.org/10.1145/2687925

Abstract :

This article presents a psychophysiological construct of interest as a knowledge emotion and illustrates the importance of interest detection in a cultural heritage context. The objective of this work is to measure and classify psychophysiological reactivity in response to cultural heritage material presented as visual and audio. We present a data processing and classification framework for the classification of interest. Two studies are reported, adopting a subject-dependent approach to classify psychophysiological signals using mobile physiological sensors and the support vector machine learning algorithm. The results show that it is possible to reliably infer a state of interest from cultural heritage material using psychophysiological feature data and a machine learning approach, informing future work for the development of a real-time physiological computing system for use within an adaptive cultural heritage experience designed to adapt the provision of information to sustain the interest of the visitor.
Categories and Subject Descriptors: H.5.2 [User Interfaces]: User-Centered Design, Evaluation Methodology, Prototyping
General Terms: Theory and Methods, Human Factors
Additional Key Words and Phrases: Interaction design process and methods, empirical studies in HCI, interaction design theory, concepts, and paradigms

Pengkaji : Ilham Tri Mulyawan

Kajian :

Saat ini banyak sekali museum atau galeri seni yang mempunyai tujuan untuk memperkenalkan dan memberikan informasi tentang warisan budaya [Ott dan Pozzi 2011]. Warisan budaya di segala bentuknya mempunyai keunikan dan tak tergantikanserta seharusnya generasi sekarang memegang tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya yang sudah ada agar tetap ada. Namun disaat pengunjung melakukan kunjungan ke museum atau galeri seni, banyak sekali pengunjung yang kurang mendapatkan informasi dari tiap objek yang menjadi warisan budaya. Hal tersebut bukan dikarenakan tidak ada penjelasan pada warisan budaya tersebut, melainkan kurangnya interaktif informasi pada objek warisan budaya tersebut ke pengunjung.  Analisis tentang warisan budaya digambarkan oleh Pine dan Gilmore [1998] tetang 4 karakteristik pemikiran dari pengunjung yang berbeda beda :
1. Hiburan(rekreasi,narasi)
Hal yang mengacu pada kapasitas artefak pada warisan budaya sehingga pengunjung dapat meikmatinya dengan kognitif dan afektif.
2. Pendidikan(transfer pengetahuan)
Hal yang menjadi proses transfer pengetahun oleh pengunjung dari objek warisan budaya.
3. Estetika (kesenangan)
Hal yang menekankan pada tanggapan emosional terhadap warisan budaya [Leder et al.2004]
4. Escapist
Hal yang mengaitkan dengan sejauh mana pengunjung tenggelam dalam realitas dari warisan budaya.
Oleh karena itu, agar pengetahuan pengunjung dapat lebih bertambah harus ditambahkan dengan interaksi dengan bantuan teknologi digital. Teknologi ini diberi nama IBIS Framework. Teknologi ini yang nantinya merupakan sistem komputasi dengan mengandalkan fisiologi pengguna dan data yang dihasilkan sebgai input ke dalam sistem komputasi yang dibangun dengan Loop Biocybernetic[Fairclough dan Gilleade 2012]. Framework yang dikembangkan tersebut akan menggunakan psikopisological manusia yang artinya adalah berkaitan dengan mengenai aktivitas spontan dari organ tubuh. Dengan framework ini terdapat tiga dimensi yang berguna untuk operasionalisasi dalam tindakan psikopisiologikal :
1. Kognisi, yang menangkap hal-hal baru dan kompleksitas pada rangsangan
2. Aktivasi, yang menangkap hal – hal yang merangsang stimulus
3. Valence, yang menangkap tingkat emosional(positif-negatif) terhadap rangsangan

Framework IBIS ini akan diintegrasikan dengan kuantifikasi ketertarikan manusia yang menjadi real-time sistem dan nantinya akan  diimplementasikan pada konteks warisan budaya. Model framework haruslah procedural, dimana pengukuran psikopisiologikal diambil dan ketertarikan dari manusia sebagai penentu biner atau skala yang menjadi output ke proses. Framework ini kemudian menentukan  tingkat otomatisasi atau interaksi yang diperlukan berdasarkan tujuan dari objek warisan budaya atau pengguna. 
                                                      Gambar 1 Framework IBIS
Diatas merupakan aliran procedural data dengan melalui pengukuran, proses pengolahan, dan klasifikasi output dari keadaan binary menjadi skala (IBIS). Lalu setelah perubahan menjadi skala, inputan dari sensor fisiologis akan diteruskan ke komponen prosesor. Prosesor tersebut bekerja dengan fitur aktivasi, kognisi, dan valensi dari data sensor baku. Lalu sensor tersebut akan mengubah data menjadi data vector. Data vector tersebut akan dijjadikan penilaian subjektif untuk masing-masing komponen objek. Framework IBIS telah diuji oleh beberapa eksperimen  yang dilakukan oleh Valencia kitchen mosaic di Madrid. Eksperimen dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
  • Untuk mengukur dan mengklasifikasikan reaktivitas psikopysiologikal dalam menanggapi isi warisan budaya yang disajikan sebagai rangsangan visual dan audio
  • Untuk menentukan varians psikofisiologis sebagai tingkat dua kondisi ketertarikan (tinggi dan rendah) yang terdiri dari tiga dimensi: aktivasi, kognisi, dan valensi
  • Untuk menentukan metode yang optimal dengan mengumpulkan data respon secara subjektif dan mengamati efeknya pada kinerja classifier
  •  Untuk mengevaluasi kinerja mesin dukungan vektor / the support vector machine  (SVM) [Cortes dan Vapnik 1995; Burges 1998; Platt 1999] untuk aplikasi real-time dan ketepatan classifier bila dibandingkan dengan data respon subjektif
  • Untuk mengevaluasi efek yang berbeda tingkat sampling fitur pada kinerja classifier.
Gambar 2 wearing sensor hardware

Gambar 2 merupakan seseorang yang sedang menggunakan sesor hardware dengan Framework IBIS. Dalam studi ini, 10 peserta (4 pria dan 6 wanita usia 19 hingga 75 tahun) ikut ambil bagian. Respon fisiologis dari sistem otonom diukur selama sesi eksperimen menggunakan EKG (sampel dari batang tubuh) dan tingkat SC (kedua dan keempat jari tangan). Empat-saluran data EEG direkam menggunakan Enobio (StarLab) nirkabel sensor empat channel (sampel di 250Hz) dengan kontak dasar pada cuping telinga kiri dan telinga bagian dalam. Topi EEG dipasang dan selaras untuk memastikan penempatan sensor.

Hasil yang didapat dari penggunaan hardware ini memberikan bukti bahwa kombinasi fitur psikopysiologikal ditambah dengan SVM dapat meningkatkan pengetahuan dan daya tangkap yang cepat oleh pengguna dalam menanggapi warisan budaya. Selain itu dapat disimpulkan juga bahwa Framework IBIS yang berbasis sensor hardware ini dapat digunakan real-time dan skala kepentingan yang transpose. 

Minggu, 07 Juni 2015

Pengenalan Heuristic Evaluation beserta kajian HE terhadap website BBIA

Hai para pembaca,
Kali ini saya akan menjelaskan tentang Heuristic Evaluation (HE). Heuristic Evaluation merupakan salah satu cara yang dipakai evaluator untuk menilai dari suatu antarmuka. Cara ini dikembangkan oleh Jakob Nielsen. Menurut Galitz(2007), cara Heuristic Evaluation(HE) merupakan cara yang tidak terbaik untuk dilakukan namun terpopuler.

Terdapat 10 Komponen Heuristic Evaluation (HE) yang dikembangkan oleh Jakob Nielsen. Komponen Heuristic Evaluation (HE) tersebut dijelaskan sebagai berikut :

1. Visibility of system status
2. Match between system and the real world
3. User control and freedom.
4. Consistency and standards.
5. Error prevention.
6.  Recognition rather than recall.
7. Flexibility and efficiency of use.
8. Aesthetic and minimalist desain.
9. Help users recognize, diagnose and recover from errors.
10. Help and documentation.

Dari 10 Komponen tersebut, saya dapat mengetahui apa saja segi yang harus ditinjau dari suatu aplikasi atau sistem. Baik dengan ini saya akan mengambil salah satu web yang akan saya kaji, yaitu BBIA.



Setelah mendapat teori singkat dan jelas tentang HE, saya akan mengambil 5 Komponen untuk meninjau website BBIA. Berikut komponen HE yang saya gunakan :

NB : Anda dapat klik tiap 5 komponen HE ini untuk mengetahui pembahasannya sesuai dengan yang saya kaji

Dengan kajian ini diharapkan semoga Anda dapat mengetahui materi tentang HE dan segi komponen HE dari website yang saya kaji yaitu BBIA.

Consistency and Standards - bbia.go.id

Pada artikel ini saya akan mengkaji website BBIA dengan menggunakan komponen Consistency and Standards dari cara yang dikembangkan oleh Jacob Nielsen

Komponen Consistency and Standards  merupakan komponen yang mengharuskan sistem memiliki desain antarmuka yang menarik dengan konsep minimalis, seperti penggunaan ikon yang menyatu pada background, whitespace pemisah antar objek, label form, judul, tabel dan keseragaman di tiap halamannya.

Dengan menggunakan komponen ini, website yang saya kaji ternyata memiliki banyak hal yang dapat dikaji. Berikut beberapa hal yang terkait dengan hal yang tidak sesuai dengan komponen Consistency and Standards pada website BBIA :



1. Pengaturan bahasa yang tidak konsisten


 Website BBIA memiliki fasilitas untuk penggantian bahasa, namun ketika saya memilih bahasa Inggris dan klik salah satu submenu yang ada 



Ketika saya klik submenu Sejarah atau History hasilnya seperti pada gambar dibawah


Submenu yang sudah sesuai dengan bahasa yang kita pilih sebelumnya namun ketika dilihat isinya ternyata masih menggunakan bahasa Default yaitu bahasa Indonesia. Hal ini sangat tidak konsisten dengan apa yang ada sebelumnya.


2. Aksi reaksi lanjutan yang tidak konsisten
Terdapat submenu ketika di klik akan menuju ke website BBIA yang berbeda tampilan dapat dilihat pada gambar dibawah



Lalu ada juga submenu yang membuka tab baru saat di klik , hal ini diaangap tidak konsisten dikarenakan tidak sama dengan aksi lanjutan pada submenu yang lainnya . Dapat dilihat pada gambar dibawah :



Kasus ini memang tidak berpengaruh terhadap fungsi sistem namun akan berpengaruh kenyamanan pengguna dalam membacanya.


3. Penggunaan huruf dan warna yang tidak konsisten

Penggunaan warna huruf  website BBIA yang tidak semuanya sama dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar diatas merupakan ketidaksamaan dengan format penulisan di form yang lain dapat dilihat pada gambar dibawah


Warna huruf yang berbeda dalam penempatan nya , mungkin hal ini tidak berpengaruh terhadap kejelasan pada informasi namun hal ini dapat mengurangi ketidaknyamanan pengguna untuk dibaca.


 Solusi dari masalah pada komponen Consistency and Standards pada website BBIA

Poin diatas merupakan hal yang menjadi kekurangan karena adanya ketidaksesuaian jika dilihat dari komponen Consistency and Standards. Saya akan memberikan solusi untuk masalah berdasarkan komponen ini pada website BBIA :
  1. Penggunaan bahasa yang konsisten di semua fungsi pada sistem jika menggunakan multiple language. Jika semua fungsi belum menggunakan bahasa selain bahasa Default seharusnya tidak perlu untuk dipublikasikan sampai semua fungsi sudah siap dengan berbagai bahasa yang konsisten.
  2. Setiap menu harus memiliki wadah form aksi reaksi yang sama. Contoh pada kasus 2 yang seharusnya semua menu ketika buka memiliki tempat buka yang sama, jangan berbeda tab/halaman jika yang lainnya tetap dalam satu halaman.
  3. Gunakan warna  font yang sesuai pada halaman lainnya.

Severity Ratings

Berikut ini adalah Severity Ratings untuk mengukur seberapa penting perubahan yang harus dilakukan terhadap permasalahan diatas. Berikut adalah beberapa kondisi Severity Ratings (Nielsen 1995) :
  • 0 = Saya tidak setuju bahwa ini adalah masalah kegunaan sama sekali.
  • 1 = Cosmetic problem only: tidak perlu diperbaiki kecuali waktu tambahan tersedia pada proyek.
  • 2 = Minor usability problem: memperbaiki ini harus diberikan perioritas yang rendah.
  • 3 = Major usability problem: penting untuk memperbaiki, sehingga harus diberikan perioritas tinggi.
  • 4 = Usability catastrophe: penting memperbaiki ini sebelum produk bisa dilepaskan.

Help and Documentation - bbia.go.id

Pada artikel ini saya akan mengkaji website BBIA dengan menggunakan komponen Help and documentation dari cara yang dikembangkan oleh Jacob Nielsen.

Komponen Help and documentation merupakan komponen yang mengharuskan sistem memiliki dokumentasi relevan dan adanya fitur help seperti  panduan, alur instruksi, dan penjelasan mengenai judul-judul yang ambigu.




1. Dokumentasi untuk publik yang kurang jelas




Pada website ini memiliki fasilitas informasi publik untuk penjelasan umum tentang tata cara berbagai hal pada BBIA namun tampilan dalam website ini kurang menarik sehingga kurang dalam kenyamanan dilihat oleh pengguna




2. Tidak ada menu Help pada website BBIA

Website BBIA memiliki fungsi yang banyak namun tidak ada panduan untuk semua fungsi. Tidak ada menu "Help"atau berupa panduan untuk memudahkan pengguna dalam penggunaan website BBIA. Sebetulnya hal ini harusnya merupakan fungsi pokok yang ada pada website.

 


Solusi dari masalah pada komponen Help and Documentation pada website BBIA

Poin diatas merupakan hal yang menjadi kekurangan karena adanya ketidaksesuaian jika dilihat dari komponen Help and Documentation. Saya akan memberikan solusi untuk masalah berdasarkan komponen ini pada website BBIA :
  1. Dokumentasi yang ada pada website haruslah jelas yang berupa informasi langsung pada form di website tersebut sehingga pengguna mudah untuk membaca dan memahaminya
  2. Website BBIA haruslah ada fasilitas Help atau panduan yang berguna untuk memudahkan pengguna dalam penggunaan website tersebut.

Severity Ratings

Berikut ini adalah Severity Ratings untuk mengukur seberapa penting perubahan yang harus dilakukan terhadap permasalahan diatas. Berikut adalah beberapa kondisi Severity Ratings (Nielsen 1995) :
  • 0 = Saya tidak setuju bahwa ini adalah masalah kegunaan sama sekali.
  • 1 = Cosmetic problem only: tidak perlu diperbaiki kecuali waktu tambahan tersedia pada proyek.
  • 2 = Minor usability problem: memperbaiki ini harus diberikan perioritas yang rendah.
  • 3 = Major usability problem: penting untuk memperbaiki, sehingga harus diberikan perioritas tinggi.
  • 4 = Usability catastrophe: penting memperbaiki ini sebelum produk bisa dilepaskan.

Flexibility and Efficiency of Use - bbia.go.id

Pada artikel ini saya akan mengkaji website BBIA dengan menggunakan komponen Flexibility and Efficiency of Use dari cara yang dikembangkan oleh Jacob Nielsen

Komponen Flexibility and Efficiency of Use merupakan komponen yang membahas sistem apakah dapat mengakomodasi pengguna yang ahli, pengguna yang masih pemula, maupun pengguna yang memiliki keterbatasan. Komponen ini lebih memperhatikan fleksibelitas pada ukuran tampilan sistem dan efesiensi nya kegunaan fungsi pada sistem   

Dengan menggunakan komponen ini, website yang saya kaji ternyata memiliki banyak hal yang dapat dikaji. Berikut beberapa hal yang terkait dengan hal yang tidak sesuai dengan komponen Flexibility and Efficiency of Use pada website BBIA :



1. Konten yang tidak menyesuaikan dengan ukuran tampilan web
Konten pada website tidak otomatis menyesuaikan dengan ukuran tampilan ketika saya merubah ukurannya dan hasilnya seperti ini : 

Dengan tampilan seperti diatas ,  maka pengguna akan merasa kurang nyaman dikarenakan adanya tidak fleksibelitas dalam tampilan website.


2. Submenu yang terlalu banyak sehingga banyak konten yang kosong tiap form
Hal ini terkait dengan ketidak efisiensi nya website ini dikarenakan banyak submenu yang banyak seperti pada dibawah ini 

Submenu yang banyak ini akan menyebabkan pada konten yang kosong pada tiap form, tampak seperti tampilan dibawah

Seharusnya hal ini dapat diatasi sehingga pengguna lebih nyaman saat melihat tampilan pada website BBIA.


 Solusi dari masalah pada komponen Flexibelity and Efficiency of Use pada website BBIA

Poin diatas merupakan hal yang menjadi kekurangan karena adanya ketidaksesuaian jika dilihat dari komponen Flexibility and Efficiency of Use. Saya akan memberikan solusi untuk masalah berdasarkan komponen ini pada website BBIA :
  1. Konten pada website seharusnya memiliki fungsi responsive sehingga jika di kecilkan pada tampilan maka akan menyesuaikan secara fleksibel sehingga pengguna masih nyaman dalam penggunaan website BBIA 
  2. Website yang memiliki submenu yang banyak seharusnya menggunakan fungsi dropdown per kategori sehingga tidak terlalu banyak konten kosong tiap form , seperti ini contoh submenu :

Severity Ratings

Berikut ini adalah Severity Ratings untuk mengukur seberapa penting perubahan yang harus dilakukan terhadap permasalahan diatas. Berikut adalah beberapa kondisi Severity Ratings (Nielsen 1995) :
  • 0 = Saya tidak setuju bahwa ini adalah masalah kegunaan sama sekali.
  • 1 = Cosmetic problem only: tidak perlu diperbaiki kecuali waktu tambahan tersedia pada proyek.
  • 2 = Minor usability problem: memperbaiki ini harus diberikan perioritas yang rendah.
  • 3 = Major usability problem: penting untuk memperbaiki, sehingga harus diberikan perioritas tinggi.
  • 4 = Usability catastrophe: penting memperbaiki ini sebelum produk bisa dilepaskan.

Sabtu, 06 Juni 2015

Match Between System and The Real World - bbia.go.id

Pada artikel ini, saya akan membahas tentang komponen Match Between System and The Real dengan tetap mengkaji website BBIA dari cara yang dikembangkan oleh Jacob Nielsen.

Komponen Match Between System and The Real World merupakan komponen HE yang mengharuskan sistem dibuat dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pengguna, dengan kata-kata, frase dan konsep yang familiar bagi pengguna. Ketika mengembangkan sistem tidak harus membuat istilah untuk konsep dapat dilihat oleh pengguna dalam aplikasi, tetapi dapat menggunakan istilah bahwa pengguna mengetahui saat menggunakan fungsi pada sistem. Dianjurkan pasa sistem untuk tidak menciptakan kosa kata baru seperti ini akan asing bagi pengguna dan akan meminta pengguna untuk mempelajari nama-nama baru, sehingga membuat pengguna semakin sulit.

Dengan menggunakan komponen ini, saya akan mencoba kaji kembali website BBIA. website BBIA memiliki beberapa segi jika dilihat dari komponen Match Between System and The Real World. Berikut beberapa hal yang terkait dengan hal yang tidak sesuai dengan komponen Match Between System and The Real World pada website BBIA : 



1. Makna dari pewarnaan huruf yang tidak jelas

Penjelasan yang terdapat pad website BBIA sangat banyak dan jelas. Dalam penjelasannya memiliki poin yang sangat berguna namun dalam poin tersebut dibedakan dua warna yaitu hitam dan warna. Seperti kita tahu bahwa huruf yang berwarna biru pada website kebanyakan mempunyai makna untuk bisa di klik namun pada website ini ternyata tidak. Warna biru digunakan untuk poin dalam tiap penjelasan. Apakah nyaman dilihat?


Gambar Form Sejarah

                                                      Gambar Form Jasa Pelatihan

Semua ketetapan ini di terapkan pada semua pembahasan pada website BBIA. Ternyata penggunaan warna biru pada huruf di website ini selain menjadi poin dari tiap penjelasan, juga mempunyai fungsi yang berbeda, Anda dapat melihat pada gambar dibawah

Selain itu juga pada gambar diatas dapat dilihat bahwa terdapat bullet yang seharusnya berfungsi sebagai point namun dalam penjelasan gambar juga menggunakan  bullet. Menurut saya hal-hal itu salah dalam penggunaannya baik dalam pengunaan dan tata letak nya. Entah dalam pewarnaan ini apakah nyaman jika Anda menjadi pembaca nya?


2.  Visualisasi dengan gambar yang kurang jelas

Pada website BBIA memiliki submenu untuk menjelaskan Penghargaan dengan sebuah gambar, namun gambar yang menjadi visualisasi ke pembaca tidak terlalu berguna karena gambar tersebut tidak jelas penampakannya,bisa Anda lihat seperti dibawah



Bisa Anda lihat bahwa pada form penghargaan tersebut tercantum gambar yang tidak begitu jelas dan hanya bisa dilihat saja , tidak bisa untuk di perbesar lagi. Lalu gambar yang tersedia memiliki resolusi yang kecil jadi informasi pada gambar tidak begitu jelas.


3. Penjelasan Informasi yang tidak jelas

Pada form jasa pengujian terdapat beberapa informasi berbentuk poin namun pada poin tersebut tidak semua memiliki penjelasan yang jelas 


Bisa dilihat bahwa hanya point pertama saja yang memiliki penjelasan yang detail namun point selanjutnya tidak detail seperti point pertama. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kejelasan saat pembaca membacanya. Sebuah informasi harus memiliki isi yang jelas sampai pengguna benar-benar mengetahui semuanya, benar kan?


4. Visualisasi web statistik yang kurang jelas
Website BBIA memiliki fungsi untuk menampilkan statistik dari penggunana pada website tersebut lalu hal itu yang saya takjubkan karena bisa dilihat oleh pengguna umum juga untuk itu. Namun ketika saya melihat dengan teliti dan hasilnya pun saya malah bingung karena visualisasi dari statistik nya membingungkan seperti ini


Web statistik pada BBIA ini sedikit saya ketahui bahwa pertama kali statistik ini menerangkan browser yang sering dipake untuk membuka website BBIA namun saya bingung penggunaan ketika melihat progress bar dan angka diikutsertakan presentase. Terdapat 2 nomor yang saya tandai diatas, pada nomor 1 merupakan progress bar lalu pada nomor 2 merupakan angka dan presentase yang dimaksudkan untuk penjelasan progress namun tetap saya bingung dalam membacanya. 


Solusi dari masalah pada komponen Match Between System and The Real World pada website BBIA

Poin diatas merupakan hal yang menjadi kekurangan karena adanya ketidaksesuaian jika dilihat dari komponen Match Between System and The Real WorldSaya akan memberikan solusi untuk masalah berdasarkan komponen ini pada website BBIA :
  1. Setiap penjelasan seharusnya memiliki arti hingga pewarnaan. Pada website BBIA ini yang menjadi masalah adalah pewarnaan warna biru yang tiada arti, seharusnya dalam warna huruf netralkan saja dengan warna hitam lalu jika ada kalimat yang menjurus kepada suatu web maka harus berbentuk link dan akan berwarna biru.Penggunaan huruf dan warna yang harus diperhatikan.
  2. Gunakan bahasa pengguna (disesuaikan dengan persona, seperti penggunaan bahasa yang lebih kekanak-kanakan jika target pengguna adalah anak-anak, gunakan bahasa yang lebih formal jika target pengguna adalah orang dewasa, gunakan bahasa inggris jika target pengguna adalah umum/semua negara, dll).
  3. Gunakan visualisasi yang jelas sehingga pembaca dapat memahami isi dengan mudah. Salah satunya pada gambar yang dapat dilihat pada website BBIA ini. Seharusnya kualitas gambar haruslah bagus dengan resolusi yang cukup besar. Selain dengan resolusi yang bagus, seharusnya pada web tersedia fasilitas untuk zoom in gambar sehingga pengguna dapat melihat lebih jelas dari isi pada visualisasi gambar.
  4. Penjelasan informasi haruslah jelas dan konsisten, jika terdapat penjelasan dengan point dan didalamnya terdapat penjelasan maka semua poin juga harus seperti itu. Informasi yang jelas juga harus diikutsertakan penggunaan bahasa yang baik dan sopan sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah.
  5. Jika ada visualisasi berupa statistik, haruslah jelas setiap angka atau informasi pada statistik tersebut. Visualisasi statistik dapat diikutsertakan sebelumnya dengan keterangan tambahan untuk isi informasi agar pengguna dapat mengetahui lebih jelas isi informasi dari visualisasi tersebut.

Severity Ratings

Berikut ini adalah Severity Ratings untuk mengukur seberapa penting perubahan yang harus dilakukan terhadap permasalahan diatas. Berikut adalah beberapa kondisi Severity Ratings (Nielsen 1995) :
  • 0 = Saya tidak setuju bahwa ini adalah masalah kegunaan sama sekali.
  • 1 = Cosmetic problem only: tidak perlu diperbaiki kecuali waktu tambahan tersedia pada proyek.
  • 2 = Minor usability problem: memperbaiki ini harus diberikan perioritas yang rendah.
  • 3 = Major usability problem: penting untuk memperbaiki, sehingga harus diberikan perioritas tinggi.
  • 4 = Usability catastrophe: penting memperbaiki ini sebelum produk bisa dilepaskan.

        

Rabu, 03 Juni 2015

Visibility of System Status - bbia.go.id

Pada artikel ini saya akan mengkaji website BBIA dengan menggunakan komponen Visibility of System Status dari cara yang dikembangkan oleh Jacob Nielsen

Komponen Visibility of System Status merupakan komponen yang mengharuskan sistem melakukan pemberitahuan berupa informasi kepada pengguna terhadap apa yang sedang terjadi. Pemberitahuan informasi yang dimaksudkan dapat berupa menu tabulasi yang dipilih, status sitem yang dipilih, ataupun aksi alternatif yang dipilih pada sistem. 

Dengan menggunakan komponen ini, website yang saya kaji ternyata memiliki banyak hal yang dapat dikaji. Berikut beberapa hal yang terkait dengan hal yang tidak sesuai dengan komponen Visibility of System Status pada website BBIA : 


1. Aksi reaksi lanjutan yang tidak tampak pada setiap menu 



Pada gambar diatas tertera bahwa saya sudah melakukan suatu aksi untuk klik salah satu menu dari website ini tapi apakah Anda tahu yang mana ? Pasti Anda menyangka bahwa saya sedang menuju menu Sejarah atau masih hanyut dalam kebingungan namun ternyata saya sedang mengarah pada menu Home 


Hal ini yang membuat pengguna mengalami kebingungan dikarenakan  tidak tahu apa yang sudah di klik oleh pengguna. Ternyata hal ini juga yang terjadi pada semua menu yang tersedia



Hal yang seperti yang seharusnya harus lebih diperhatikan oleh tim developer IT dari BBIA nya karena semua informasi yang tertera sebetulnya memiliki hal yang sangat penting dan berguna untuk pembaca.


2.   Ketidaksesuain aksi lanjutan pada fungsi pencarian 
Website BBIA memiliki fungsi pencarian yang mungkin tujuannya untuk memudahkan pengguna dalam pencarian informasi yang terkait dengan Agroindustri baik dalam internal maupun eksternal yang maksud untuk pengguna umum.



 Namun ketika saya mencoba pencarian dan saya mengalami kebingungan karena semua yang saya cari tidak ada. 



Itu maksudnya saya sebelumnya mengatakan "mungkin" dalam penggunaannya karena belum mengetahui lebih jelas untuk ruang lingkup dalam pencariannya namun setelah saya mencoba untuk pencarian "surat"dan ternyata ada namun mungkin ini hak dalam internal dari BBIA dan apakah surat ini bermanfaat untuk pengunjung umum?




3. Submenu yang tidak ada isi 
Tiap submenu pada website BBIA memiliki fungsi yang berbeda dan beragam namun saya menemukan  satu submenu yang tidak ada isi nya namun tetap dicantumkan sebagai submenu.


Submenu tersebut dengan kondisi tidak isinya yang seharusnya tidak dicantumkan karena jika tetap ada menurut saya akan menjadi sisi kekurang manfaatnya fungsi pada sistem.


Solusi dari masalah pada komponen Visibility of System Status pada website BBIA

Poin diatas merupakan hal yang menjadi kekurangan karena adanya ketidaksesuaian jika dilihat dari komponen Visibility of System Status. Saya akan memberikan solusi untuk masalah berdasarkan komponen ini pada website BBIA :
  1. Biarkan pengguna tahu dari mana mereka sedang dalam bernavigasi (misalnya dengan memberikan breadcrumb, menyoroti header tab yang sedang aktif).
  2. Dalam tiap fungsi seharusnya dikasih keterangan agar lebih jelas dalam penggunaannya. Lalu semisal fungsi pencarian seharusnya meluas sampai pengguna umum bisa menggunakannnya dengan mudah. Misalnya fungsi pencarian pada website ini dengan pengkategorian sehingga pengguna baik dari internal maupun eksternal dapat menggunakannya dengan mudah.
  3. Jika ada submenu yang tidak isinya seharusnya tidak usah diletakkan pada website atau kalau memang ingin tetap ada, buat lah submenu tersebut dinamis yang dapat dibuat oleh admin atau pengelola website.
  4. Mengubah warna atau teks pada tombol, atau menonaktifkannya saat diklik (misalnya teks pada tombol perubahan 'Search' dan 'Login' pada website BBIA).

Severity Ratings

Berikut ini adalah Severity Ratings untuk mengukur seberapa penting perubahan yang harus dilakukan terhadap permasalahan diatas. Berikut adalah beberapa kondisi Severity Ratings (Nielsen 1995) :
  • 0 = Saya tidak setuju bahwa ini adalah masalah kegunaan sama sekali.
  • 1 = Cosmetic problem only: tidak perlu diperbaiki kecuali waktu tambahan tersedia pada proyek.
  • 2 = Minor usability problem: memperbaiki ini harus diberikan perioritas yang rendah.
  • 3 = Major usability problem: penting untuk memperbaiki, sehingga harus diberikan perioritas tinggi.
  • 4 = Usability catastrophe: penting memperbaiki ini sebelum produk bisa dilepaskan.